Mustahil Rakyat Bangkit, Jika Gubernur dan Wakil Rakyat Tipikal Sleep leader


Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (godfathers)

Sulit rasanya berkembangnya suatu rakyat daerah jika daerah tersebut dibiarkan ditangan orang-orang yang tidak cerdas dan kurang paham pembangunan masyarakatnya. 

Konsep pembangunan rakyat pada negara dan masyarakat daerah sebenarnya tidak berbeda, hanya saja cakupan dan kekuasaan pemerintahan yang terbatas, misalnya jauh lebih luas presiden daripada gubernur dan bupati.


Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Sebenarnya sederhana saja, semua pemimpin rakyat ini berfungsi untuk mengkorsinasikan seluruh potensi yang dimiliki oleh masyarakat suatu negara atau suatu daerah untuk membuat rakyatnya berkembang.

Nah, kesimpulannya awal, tidak mungkin masyarakat berkembang jika pemimpinnya kaku dan tidak kreatif, seharusnya siapapun pejabat adalah manusia paling paham tentang pembangunan rakyat daerah anda. Jangan melempem, pemalas, jauh dari rakyat, dan tidak respon terhadap masyarakat, apalagi beropini dengan karyanya. Ingat pemimpin yang tidak bisa melihat masyarakatnya adalah pemimpin tidur (sleep leader).

Nah, pertanyaan yang utama kita tanyakan kepada seseorang pejabat daerah, apakah anda peduli pada diri dan sekeliling anda, sejauhmana kita peduli dengan potensi yang harus kita gali disekeliling kita.

Kalau itu saja kita tidak mampu mengapa masyarakat harus memilih anda? Kenapa masyarakat harus memilih sebagai gubernur, bupati/walikota? 

Kenapa masyarakat harus memilih anda sebagai wakil rakyat? Apakah anda seseorang yang berpikir untuk rakyat, berpokir saja standarnya sudah bagus, misalnya anda melihat ketidakadilan terhadap warga masyarakat yang mempunyai kemampuan tapi dia mendapat perlakuan tidak adil dalam politik dan kepemimpinan

Nah, kalau itu anda paham maka anda memiliki rasa kesetiakawanan sosial, tapi kalau anda berlaku seperti zombi yang menjadi pemakan sesama manusia maka sebaiknya jangan dilanjutkan membangun jalan menuju ke neraka (Stop building a road to hell).

Apakah anda paham bagaimana tingkat kemampuan anda menjadi pemimpin daerah, sementara masyarakat justru melempem (lazy society), mereka harus mempertaruhkan masa depannya dan anak-anaknya sebagaimana ajaran yang anda berikan, sementara anehnya,8 anda hanya mampu sebagai pencari uang pada jabatan tersebut.

Apakah anda sadar kalau anda sebagai pemimpin kelompok politik saja, sementara hampir semua anggota anda suram masa depannya?

Bagaimana orang yang sumber dayanya diatas, bisa anda buat turun ke bawah, apakah anda lupa peran dan fungsi anda sebagai pemimpin?

Karena itulah tanggung jawab pemimpin itu sangat besar, jangan anggap sepele, kalau benar anda taat beragama, dan anda tahu tuhan, maka jangan lakukan pekerjaan coba-coba dengan politik dan kepemimpinan, jika kepahaman anda meraba-raba, karena sangat besar dosa pada orang yang membawa kehancuran pada masa orang banyak.

Pertanggung jawaban kepemimpinan anda sampai ke anak cucu orang-orang yang pernah anda pimpin, karena itu jangan anggap remeh tanggung jawab memimpin, maka orang Jepang yang beragama Shinto yang budaya malunya terbesar dalam tanggung jawab, mereka selalu mundur dalam jabatan jika dianggap bermasalah, kemudian mereka juga tidak bermuka tebal menjadi pemimpin. Karena itu ukuran memimpin tidak dapat diukur dengan indikator agama, apakah dia Islam, apakah dia budha, apakah dia hindu. Soal memberi bobot kepada prioritas agama anda tentu tidak dilarang tapi jangan lebay. 

Kenapa? Karena jangan  mempertaruhkan agama dengan kesuksesan dan kegagalan anda memimpin, apalagi peluang kepuasaan rakyat dalam kepemimpinan kita masih zong, tidak satupun ada yang memuaskan.

Apakah kita pernah memahami kenapa Islam sangat menekankan tanggung jawab yang utama dalam kepemimpinan dalam bidang apa saja yang tanggung jawabnya menghadapkan mereka ke neraka. (leadership responsibility is hell).

Karena itu jika anda tidak punya cukup ilmu kesana untuk bertanggung jawab terhadap hidup masyarakat maka sebaiknya evaluasi diri jika bernafsu menjadi pejabat, karena apa? Karena jangankan solidaritas masyarakat, teman-teman akrab anda saja tidak mampu untuk memberikan solidaritas. Bukankah anda sebenarnya sedang mempersembahkan sikap arogan, tamak serta hina yang memalukan dalam standar pergaulan dan bahkan dalam standar solidaritas organisasi masyarakat.

Tunggu saja ketika muncul standar ketauladanan dalam organisasi politik, maka semua akan berubah, nilai kesetikawanan juga pasti akan berubah, hal inilah yang akan merubah cara hidup yang lebih cardas pada suatu masyarakat yang merubah mereka dari bangsa abal-abal ke bangsa yang benar-benar mulia sebagaimana yang di sebut-sebut tokoh politik kita di Aceh.


Untuk itu nilai-nilai yang dikandung secara normal pada seorang pejabat, namun hal minimal yang harus segera di hilangkan pada siapapun pejabat kita adalah sebagai berikut, dan anda dapat menulis dalam daftar dibawah tulisan ini dan mengirim artikel ini dan daftar barang terlarang pada pejabat anda sebagai pelayan rakyat  :

Tidak terbuka, 
Berpura-pura baik
Berpura-pura lupa
Berpura memahami
Tidak demokratis, 
Tidak komunikatif, 
Tidak menggali potensi sumber daya masyarakatnya,
Tidak paham beban rakyatnya,
Tidak paham tugasnya mengayom rakyat,
Tidak paham paham tuntutan kebutuhan rakyatnya,
Tidak tahu kecerdasan rakyat,
Tidak mau tahu rakyatnya, 
Tidak paham tujuan rakyat dalam politik,
Tidak paham mengembangkan ekonomi rakyatnya,
Tidak paham ketrampilan rakyat,
Tidak paham standar kenyamanan sosial,
Tidak tahu keresahan sosial,
Tidak paham standar kesejahteraan,
Tidak paham standar kebahagiaan sosial,
Tidak punya mimpi tentang kesejahteraan sosial,
Tidak paham mengkordinasikan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunannya,
Tidak punya rasa keadilan
Tidak menghormati perbedaan pendapat,
Tidak mampu mempersatukan masyarakat untuk berpikir dalam pembangunan,
Tidak paham pendidikan bangsa,
Tidak paham kualifikasi warga masyarakat,
Tidak paham memberi tempat,
Tidak paham berterimakasih,
Tidak paham membangun kader,
Tidak paham memberi tempat masyarakat cerdas,
Tidak paham menghargai ilmu pengetahuan,
Tidak paham menghadapkan masalah rakyat dengan pemecahan masalah,
Tidak membutuhkan otak orang yang paham,
Tidak menghormati sesama,
Tidak paham membangun sistem organisasi rakyat,
Tidak paham masalah masyarakat,
Tidak paham pilihan pengambilan keputusan bersama,
Tidak tahu arah pengembangan demokrasi,
Silakan dilanjutkan menulis...

Salam





Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil