Apakah Anda Berjiwa Merdeka Atau Anda Sendiri Terjajah, Bagaimana Mengajak Orang Lain Berjuang Merdeka?
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (God Fathers)
(Tulisan ini harus dibaca sampai habis agar tidak menimbulkan kesalahan dalam berpikir).
Masyarakat seringkali menganggap kondisi sosial normatif karena sedikit yang memahami kenapa suatu kondisi sosial itu terjadi sebagaimana yang dirasakan mulai ia dibesarkan hingga menjadi dewasa.
Sebahagian besar warga masyarakat justru terbenam dalam sistem hidup yang tidak pernah bisa berpikir dalam batas tanggung jawab hidup di dunia bahkan sampai tua bahkan menjelang ajal menjemputnya.
Kenapa demikian? Karena memang dia hanya berpikir dalam skop (batasan) kenyamanannya. Menjalani rutinitas sebagaimana hidup burung dalam sangkar yang dipelihara oleh manusia. Setiap pagi, siang dan malam diberi umpan dan dia hanya berada dalam kandang kecil itu sebagai hiasan dan mainan manusia.
Nyawanya hanya untuk sebatas bertahan hidup dan melakukan apasaja yang diajarkan oleh pemiliknya, misalnya burung beo, dia hanya bersuara meniru sebagaimana suara yang sering diperdengarkan kepadanya. Lalu dengan cara hidupnya tersebut apa yang bisa dilakukan? Jawabannya adalah hidup hanya untuk menunggu mati saja. Tetapi pernahkah dia menyadari hal itu? Jawabannya sama sekali tidak.
Coba kita analisa kembali kehidupan orang atau manusia, kita bisa membagi dua model dalam garis besar cara hidupnya.
Pertama, manusia yang hidupnya terjajah yang pemikirannya dibatasi oleh alam berpikirnya yang terbatas. Bisa saja disebabkan oleh faktor pembentukan pikiran tersebut dalam pekerjaannya, bisa juga disebabkan kemampuan otaknya yang tidak peduli sejauhmana hidupnya dan untuk apa sejarah hidupnya.
Jarang sekali orang yang memiliki target hidupnya hingga dia mati dengan perencanaan sejarah dalam hidupnya. Kenapa? Karena memang pikirannya tidak mampu menjangkau batasan tersebut.
Berikutnya tentu saja karena dia manusia yang pesimis, manusia statis dan tidak punya alat atau kemampuan untuk berpikir merubah cara hidup dan membawa orang lain untuk hidup lebih terarah dan membuat sejarah yang bermanfaat dalam sejarah hidupnya.
Kalau demikian logikanya tentu kita bisa berpikir bahwa pada saat ini sebahagian besar manusia menjadi non dinamis yang bertentangan (antitesis) dengan hakikat dirinya sebagai makhluk sosial dan hakikatnya sebagai khalifah bagi semua makhluk dibumi sebagaimana ajaran dalam Islam.
Lalu apa yang anda saksikan? Sebahagian besar warga masyarakat menjalani hidup secara rutin dan tidak pernah berpikir untuk keluar dari lingkaran kenyamanannya, Kenapa demikian?
Jawabannya adalah merekalah manusia yang terjajah dengan pemikirannya sendiri, dan berpikir sebatas ajaran hidup yang paling mendasar yang pernah diajarkan oleh orang tuanya ketika dia tumbuh dari kecil menjadi manusia remaja dan dewasa dalam artian mendasar yaitu lepas dari orang tuanya. Kenapa karena sekolahpun dia tidak pernah membaca senagaimana tuntutan dalam studynya.
Apalagi dalam kehidupan sehari-hari setelah tidak dalam pendidikan wajibnya, apakah anda membaca? Sekali-sekali jawabnya, padahal omong kosong (talk nonsense). Lalu wawasan dan pengetahuannya tentu saja hanya dalam batasan orang tuanya sebagai guru. Karena percaya atau tidak pelajaran masa kecil adalah yang paling anda ingat meski anda sudah dewasa.
Karena itu maka di negara-negara maju pembentukan seseorang warganya sudah dapat ditentukan sejak ia dari masa usia balita. Karena itu pula maka di negara maju sudah menerapkan pembatasan kelahiran (zero growth) berbeda di tempat kita yang orang melahirkan sebagaimana tikus melahirkan bahkan anaknya dibuang ketika sudah melahirkan.
Kedua, Manusia merdeka yang selalu berpikir kebebasan hidup tanpa intimidasi, tanpa rantai pengikat yang membatasi pemikirannya dalam kehidupan, termasuk juga yang berpikir dan menuntut merdeka atas tanah sebagaimana tuntutan merdeka oleh masyarakat Aceh untuk lepas dari NKRI. Meskipun pikirannya terjerumus dalam sebatas pikiran kekuasaan yang sempit dan nafsu besar ilmu kurang atau berpikir dalam pembebasan terbatas, yakni kekuasaan yang bisa saja justru lebih menjajah jika mentalitas kebangsaan nihil.
Meskipun begitu tetapi mereka adalah warga masyarakat Aceh yang berpikir untuk kebebasan meskipun sesungguhnya jiwanya belum merdeka akibat dibatasi oleh konsepsi berpikir yang terbatas. Hal ini bisa saja dipengaruhi oleh faktor pendidikan yang terbatas atau ketertinggalan dalam ilmu politik yang secara rata-rata dialami oleh masyarakat Indonesia.
Logikanya begini ya, bagaimana masyarakat kita yang diluar sekalipun bisa menguasai ilmu politik kebebasan kalau mereka tidak cukup nalar dan pergaulannya dilingkungan masyarakat biasa. Kenapa? Karena mereka bukan dari kalangan pembelajaran dan keilmuan yang tentu saja akan sulit masuk ke wilayah keilmuan tersebut dengan masyarakat dunia yang berpikir dalam kebebasan.
Lalu mereka berada dalam dunia otodidak yang sulit menembus batasan politik bernegara jikapun ada maka langka yang cukup kualitas dan kapasitasnya. Kurang yakin? Lihatlah kehadiran seorang pemimpin rakyat yang jarang sekali kita temui bakatnya. Yang banyak kita temui orang yang berpikir nekat dan cacat pikirannya tanpa pengendalian sosial, mereka sebahagian besar hanya sebatas berjiwa provokasi dan mengambil manfaat dengan kondisi sosial dan membangun kerusakan mentalitas sosial dengan penyesatan masyarakat dalam bernegara.
Pertanyaannya begini, apakah pejuang kemerdekaan wilayah tidak bisa menjadi warga nagara yang matang? Pejuang kemerdekaan itu adalah mereka yang lebih paham merdeka yang sesungguhnya. Karena dia bisa mengupas dan membawa negara induknya ke altar penghadapan pada dunia internasional terutama dalam kebebasan bangsa dan rakyat, maka semua orang politik seharusnya belajar demokrasi secara total untuk menuntut kemerdekaan hidupnya dan melepaskan dirinya dari instrumen dan anasir feodalisme.
Kenapa demikian? Karena dengan menguasai ilmu yang melebihi dari pelaksana negara maka mereka akan mampu menuntut kepemimpinan negara manapun yang kepemimpinannya tidak memenuhi standar demokrasi tersebut.
Nah, ada juga satu peluang memperoleh ilmu politik kepemimpinan negara, kalau kebetulan sedang ada pendidikan politik skema president class mungkin saja akan terbantu mendorong sumber daya manusia dimaksud karena semua elemen pemerintah dan negara akan berkomitmen dalam mensukseskan pembentukan calon pemimpin kelas dunia internasional dimaksud.
Mungkin saja mereka ada diantara kita yang bisa terbaca dalam kebebasannya berpikir dan kebebasannya berbicara.
Nah, merekalah yang bisa hidup dengan perencanaan yang matang, dan merekalah yang bisa hidup merdeka sesungguhnya, jikapun dia mati maka dia akan berusaha membuat sejarah dalam hidupnya meskipun dibatasi oleh kekuasaan dan kebanyakan pemikir justru benar-benar menjadi ilmuan ketika dia sudah tidak ada dan orang lain yang menggali hidupnya dan karyanya untuk menjadi alasan hidup generasi yang berpikir berikutnya. Begitulah kecenderungan mereka sebagaimana pengalaman dimasa lalu terhadap mereka.
Tetapi manusia yang berpikir berat untuk hidup sebahagian besar mereka dipengaruhi berat hidupnya misalnya tanahnya tandus, gurun pasir, sulit air dan hidup yang berat, mereka akan berpikir lebih berat dan pemikirannya menjadi unggul maka di tanah gurun banyak melahirkan para nabi karena mereka tidak ada ilmu produktifitas sebagaimana Albert Einstein dan lain-lain dan ilmuan teknology dalam menemukan listrik, radio, televisi dan telpon.dan lain-lain yang mengubah dunia.
Semantara pemikir dari Timur Tengah karena berpikir dalam mencari tuhan, mereka mencari bantuan hidupnya pada pencipta dengan mengandalkan fatwa, ayat dan doa akhirnya tentu saja mereka banyak pengikut, begitulah proses kelahiran nabi yang jumlahnya mencapai Seketi Dua Lasa Empat Ribu.
Salam
