Bagaimana Mungkin Seseorang Memimpin Daerah Bila Tak Punya Ilmu Kepemimpinan Politik


https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548


Oleh : God Fathers

Begitu mudahnya seorang yang dilahirkan sebagai putra mahkota dinegara kerajaan sebagaimana kecenderungan di masa lalu. Sejak dilahirkan dalam keadaan telanjang ia telah ditunjuk sebagai calon pemimpin rakyat disuatu negara.

Karena itulah kenapa di daerah dan negara yang berbasis kerajaan pemikiran sosial mengetengahkan bahwa keterpilihan seorang pemimpin, mereka sebutkan sebagai kelahiran pemimpin. 

Bahkan ketika negaranya yang telah berubah sebagai negara yang menganut sistem musyawarah, masyarakat masih mempersepsikan sebagai kelahiran sebagaimana masa lalu.

Memang bisa saja dipersepsikan sebagai kelahiran selama masyarakat memaknainya pada substansi yang tepat dalam demokrasi.

Bedanya adalah pada kandungan atau rahim, dimana rahim pada masyarakat kerajaan adalah kandungan seorang ibu. Sementara kandungan pada masyarakat demokrasi adalah bentuk dukungan masyarakat meski di identifikasikan oleh kelompok politik yang disah dengan Undang-Undang dan peraturan negaranya.

Lalu, apakah putra mahkota dalam kerajaan berkemampuan memimpin rakyatnya?

Dimasa lalu putra mahkota dipaksakan untuk menduduki tahtanya bahkan mereka bisa menjadi raja sejak masa remajanya. Maka kita mendapatkan sejarah yang bertolak belakang dengan budaya kepemimpinan yang etis.

Misalnya terjadi rekayasa pembunuhan terhadap raja yang dilakukan oleh putra mahkota dan masyarakat dipaksakan untuk tunduk dan patuh pada raja baru, padahal dia adalah seorang pembunuh dan bermental sangat kejam serta pendosa dalam agama apapun yang dianut dimasa itu.

Pertanyaannya, apakah dia mampu memimpin rakyat? 

Tentu saja pada masa lalu dengan sistem pemerintahan yang tradisional dianggap mereka mampu, karena keahlian yang dibutuhkan pada kepemimpinan masa lalu adalah mentalitas penguasa. 

Mereka hanya perlu tahu tentang protokoler sistem kerajaan yang dapat dipelajari sejak mereka hidup dari masa kecilnya dalam keluarga kerajaan tersebut, maka mentalitasnya sudah tergolong cukup untuk menjadi pemimpin rakyat.

Salah satu yang menjadi keharusan sebagai bekal memimpin dimasa lalu adalah ilmu bela diri yang sebahagian besar putra mahkota sudah dipandu untuk belajar dengan guru yang istimewa dengan katagori sakti mandraguna.

Karena kekuasaan yang sangat absolut pada putra mahkota maka semua rakyatnya menaruh rasa hormat yang berlebihan bahkan dianggap suci karena titisan seorang raja yang dianggap sebagai sebagai takdir dari tuhannya.

Ketika terjadi transisi dimana dunia sudah berubah dimana pengetahuan rakyat yang hampir merata, dan alat memimpin bergeser pada kearifan serta keadilan pada rakyat maka alat memimpin sebelumnya juga turut mengalami perubahan.

Perubahan tersebut tentu saja tidak langsung menyentuh pada katagori sebagaimana substansi kearifan dan keadilan. Tetapi masih pada tahapan kekuasaan dengan kekuatan fisik. Dimana seseorang yang dianggap sebagai pemimpin adalah mereka yang kuat dan seperti seorang juara pertarungan adu fisik. Bahkan masih mempertimbangkan faktor keturunannya.

Ketika negara-negara di dunia mulai mengenal demokrasi dan pengambilan keputusan tentang pemimpin dalam musyawarah perwakilan masyarakat terjadi kesulitan dalam memutuskan kriteria calon pemimpin, bahkan ada negara yang menentukan pemimpinnya dengan memandang keberaniannya dalam menyelamatkan seseorang atau sekelompok warga negara lain.

Kenapa demikian? Jawabannya tentu saja karena faktor jiwa sosial masyarakat yang masih berorientasi pada faktor keberanian seseorang. Misalnya keberaniannya dalam perang antar bangsa dan antar kerajaannya atau antar suku dan antar kelompok masyarakat.

Faktor pertimbangan lain juga dengan basis pemikiran seseorang yang datang dari keluarga mapan dan terpandang. Tahapan perubahan kepemimpinan ini sebenarnya tidak jauh dengan sistem kerajaan namun pada masa itu sudah berubah dalam sistem kepemimpinan feodal yang mewarisi kepemimpinan raja yang absolut.











Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil