Realita Kehidupan Politik dan Ekonomi Masyarakat Daerah
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548
Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik dan Download Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar
Oleh : (GodFathers)
Ekonomi Indonesia boleh saja di sebut sedang meningkat tapi nilai uang semakin tidak berharga, kalau dulu rakyat dapat uang Seratus Ribu Rupiah sudah mencukupi belanja kebutuhan rumah tangga sehari. Tapi sekarang Dua Ratus Ribu masih kurang, kata orang berilmu ekonomi dengan satu kata inflasi.
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Bila kita rasakan sebelumnya dalam politik sepertinya lebih mudah menjalani hidup karena sistem politik dalam partai masih bersifat kekeluargaan dimana partai politik sedang tumbuh secara normal secara tegak lurus.
Tetapi sekarang dalam partai politik terjadi persaingan lintas personal semua itu disebabkan semakin tinggi tingkat persaingan dan hanya dipersatukan dengan konsep konspirasi.
Jaman sekarang dengan kebijakan pemerintah maka sistem ekonomi membuat ketergantungan hanya pada sektor produktif dimana masyarakat yang dapat hidup adalah mereka yang memiliki usaha riil. Usaha apa saja yang memiliki pasar yang jelas di dalam masyarakat yang membutuhkan termasuk dalam perspektif kebutuhan hidup yang mendasar.
Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar
Campur tangan negara diperlukan untuk mengatasi resesi ekonomi namun diuntungkan pada masyarakat kecil dengan skema bantuan, apakah namanya Bantuan Tunai Langsung ataupun bantuan lain dari pemerintah. Sementara warga negara yang tidak berpartai politik justru terpuruk karena dalam sistem ekonomi tidak sebagai warga produktif dan dalam politik juga tidak dalam lingkaran kekuasaan.
Sementara menjadi masyarakat kecil dianggap kurang normatif dalam etika hidup.
Pertanyaan, siapa yang lebih menderita? Masyarakat kecil atau para orang politik yang tidak berpartai politik?
Kehidupan Para Politisi
Dengan biaya (cost) politik yang tinggi sementara tingkatan hidup masyarakat yang hampir melarat maka dapat dipastikan sistem demokrasi akan demokrasi tidak dapat berjalan normal sebagaimana yang diharapkan.
Politisi dalam mendapatkan jabatan di parlemen dan mendapat jabatan dalam pilkada dan pilpres tentu berprilaku sebagaimana kelompok kapitalis, karena mereka mendapatkan uang dari negara dan bisnis sampingan kemudian mereka harus membeli suara masyarakat kecil yang di bawah.
Politik barter suara masyarakat dengan uang dan fasilitas tidak terhindarkan, lalu bagaimana kualitas demokrasi yang sesungguhnya berbasis kepercayaan atau trust sosial sebagai alat tukarnya?
Tentu saja kita berbicara dalam omong kosong (talk nonsense). Atau dengan istilah yang lebih keren bahwa Sistem demokrasi Yes, kualitas demokrasi No! (Democracy Yes, Quality Democracy No).
Kualitas indeks Demokrasi tidak pernah meningkat dibandingkan masa lalu bahkan sekarang dapat diaggap zero dalam peningkatannya, bahkan menurun sangat signifikan dalam rezim kali ini.
Karena itulah muncul istilah oligarkhi terhadap pemerintah sekarang disamping faktor lain yang negatif. Sebenarnya biasa saja menyebut istilah tersebut dalam sistem pemerintahan baik anda sebagai pendukung atau yang berkontra dengan pemerintah. Namun issu politik tidak boleh ditutup tetapi justru dibuka untuk dibicarakan.
Tanpa membahasnya secara terbuka maka semua issu politik akan jauh dari nilai konstruktif dari pandangan masyarakat umum selalu menjadi opini yang dipandang sebagai musuh bahkan mereka bisa saja tidak paham maksudnya sama sekali.
Bisa saja pelakunyapun tidak memahami resiko dari kebijakannya karena diapun melakukannya atas dorongan dan dukungan serta menjadi kecenderungan para mentalis disekeliling kekuasaanya. Kalau pelakunya sadar bahwa prilaku membawa dampak buruk terhadap dirinya dan keluarganya tentu saja dia tidak akan melakukannya.
Itulah kecenderungan disebabkan sistem demokrasi, oleh karena itu maka sistem demokrasi dibutuhkan balance yang mengatasi kekuasaan mutlak. Terutama dalam sistem bernegara yang diatur dengan peraturan perundang-undangan yang membangun keseimbangan dengan (trias politica) yakni eksekutif, legislatif dan Yudikatif.
Namun yang kita sayangkan fatsun dan etika politik atau kawajaran nilai ideal atau nilai kesantunan tidak mampu ditunjukkan atau di beri ketauladanan oleh pelaku penanggung jawab dalam politik. Terutama dalam balancing kekuasaan politik.
Karena faktor itulah akhirnya kekuasaan dalam demokrasi dan mendapat kepercayaan (trust) yang lebih sehingga banyak pemimpin terdegradasi dalam dalam politik kekuasaan yang absolut. Faktor ini pula yang berinspirasi menumbuhkan semangat munculnya oligarkhi secara sistemik dalam sebuah kekuasaan.
Jawabannya sederhana saja sebagai akibat mentalitas para pendukung dan pendamping yang berlebihan menganjurkan banyaknya dukungan dengan realita banyak masyarakat mempercayai pada pengendali kekuasaan maka nilai itu menjurus kepada penguatan kepada elemen-elemen disekeliling kekuasaan, seperti anak, adik, abang dan lainnya mengambil untung dari trust yang besar dalam kekuasaan.
Saya percaya bahwa politisi mau tidak mau harus menerimanya dan mereka maju sebagai caleg dan pejabat adalah semacam menjadi kebutuhan bagi dirinya. Sementara mereka bagai dikejar oleh waktu untuk melakukannya.
Kalau demokrasi berjalan normal tidak mungkin seseorang disemangati berlebihan dalam pencalonannya dalam masa tugas sampai tiga atau empat periode jabatan. Padahal prestasi dan daya ungkit untuk pembangunan rakyat zero dalam pengembangannya. Sementara yang memperoleh manfaat lebih adalah timsesnya yang mengkampanyekan calon tersebut.
Masyarakat Umum
Lalu bagaimana dengan masyarakat secara umum? Mereka hanya melihat kepada calon memiliki ide atau kemampuan dalam merubah sistem hidup masyarakat. Lalu kalau calonnya tidak bercampur dengan semangat primordialis maka harus digali semangat tersebut dengan nilai-nilai yang pada akhirnya bisa memberi manfaat kepada kepada masyarakat pemilih dalam pembangunan.
Itulah dalih semangat politik kedaerahan yang sempit, namun politik semakin lama semakin berubah. Maka nilai-nilai yang berlaku dalam alat pemersatu sebelumnya telah mulai punah.
Karena politik akan tumbuh secara profesional, dimana orang politik akan tumbuh dan berkembang sebagaimana profesionalnya pemain sepak bola yang dalam musim kompetisi lima tahun sebelumnya bermain untuk tim A dan di musim kompetisi bisa saja bermain untuk Tim B.
Kenapa demikian? Tentu saja karena sistem pengelolaan partai politik yang tidak stabil. Karena itu partai politik benar-benar menjadi alat kepentingan politik praktis yang menjunjung tinggi kekuasaan.
Oleh karena itu kita sering mendapati dimana sebelumnya partai itu bersistem kepemimpinan otoriter namun setelah berganti ketua umum yang baru justru jadi partai yang demokratis, begitupun sebaliknya.
Kalau kader pimpinan dipusat demikian adanya kenapa sibuk mempertanyakan kader partai politik di daerah?
Tentu saja kader di daerah menggunakan partai politik untuk peluang mendapatkan posisi dan jalan berkuasa bagi mereka yang pintar dan memahami ilmu politik dalam partai politik di Indonesia.
Karena sistem demokrasi yang lumayan baru di Indonesia, terdapat banyak kader partai di pusat dan daerah justru tidak memahami alat politik sebagaimana sistem politik Indonesia yakni Demokrasi.
Maka yang berpartai politik dengan menyamai persepsi dengan beragama adalah manusia statis yang sungguh tertinggal dalam politik Indonesia.
Semoga cepat menyadarkannya.
Salam

