Politik Untuk Rakyat Sebahagian Besar Penciteraan dan Omong Kosong


https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2473918599303548

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (Good Fathers)

Pembahasan dan diskusi politik di tengah kehidupan masyarakat kita sebahagian besar adalah omong kosong yang tidak bisa menghasilkan suatu kesimpulan.

Kita melihat forum diskusi sebahagian besar hanya bertujuan menjadikan forum sebagai alat tampil atau hanya sebatas panggung politik yang pada intinya hanya sebatas tempat mendifinisikan tema diskusi yang sama sekali tidak memberi suatu manfaat untuk menjadi cambuk pemerintah atau mendorong semangat warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunannya.

Karena kebiasaan ini tidak pernah berusaha untuk mengubahnya (move on) dalam sistem kita mengawal pemerintahan dan rakyat sendiri juga tidak paham berpolitik untuk mendorong peran wakil rakyat dalam tugas dan fungsinya. Selain wakil rakyat itu sendiri juga tuli dan buta terhadap kondisi sosial tersebut.

Kemudian sebahagian besar diskusi publik hanya berinisiatif membangun diskusi untuk menjadi fasilitator sebagai penerusan tujuan politik para narasumber yang diundang untuk berbicara pada forum dimaksud.

Berikutnya masyarakat belum terbiasa menghargai sebuah tulisan sebagai alat komunikasi tetapi masih memelihara image bahwa sikap dalam politik adalah ketika seseorang politisi berbicara secara lisan sebagaimana orang berdakwah yang menyebar kebaikan normatif bukan membawa rakyat dalam politik, dalam tehnis-tehnis pemberdayaannya dalam pembangunan masa depannnya.

Sebenarnya posisi rakyat seperti ini adalah posisi yang keliru, meskipun mereka sebagai penerima BLT posisi rakyat itu tidak bisa direpisisikan dalam bernegara. Karena hanya elemen rakyatlah yang utama terhadap syarat adanya sebuah pemerintahan dan negara. Pemerintah sesungguhnya adalah pelayan rakyat dalam posisinya bernegara, begitupun wakil rakyat sudah pasti mereka adalah pesuruh bagi rakyat.

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Pada masyarakat yang melek politik justru tulisan adalah alat bicara yang dianggap sempurna karena setiap kata harus dapat dipertanggung jawabkan kepada publik dan selalu bisa dibuka untuk dibaca sebagai refresensi. 

Jika tidak begitu kepintaran atau ukuran seseorang dalam dunia pendidikan diukur dengan ujian di sekolah dan perguruan tinggi dengan ujian yang juga menggunakan bacaan tulisan?

Pada setiap menjelang ujian siswa atau mahasiswa di anjurkan apa yang harus mereka belajar tentang pelajaran yang sudah diberikan sehari-hari yang biasanya mereka terima dengan catatan-catatan yang dianggap penting bagi sub materi pelajaran tersebut.

Kebiasaan ini memang berbeda dengan sistem pengajaran mahasiswa di perguruan tinggi yang sudah maju dimana para dosen masuk ke kelas bukan sebatas meminta mahasiswa mencatat dan dia memang membawa pelajaran dengan cara-cara penyajian materi yang profesional. 

Kemudian para dosen bukan sebatas ukuran kutu buku sebagaimana yang sering kita lihat, tetapi mentalitas mereka menjadi keutamaan dalam kelulusannya sebagai dosen pengajar yang menentukan masa depan generasi bangsa, mengapa? Tentu saja karena mentalitas jauh lebih utama dalam pendidikan manusia dewasa dan merdeka.

Lalu, kenapa hal ini terus dipelihara? Jawabnya ya karena sumua dalam posisi yang nyaman dalam pekerjaannya masing-masing. Dosen nyaman dengan pola mengajarnya, mahasiswa nyaman dengan cara belajarnya, orang tua juga nyaman dengan anaknya sebatas memperoleh ijazah dan titel, sehingga kondisi ini juga tergolong pemeliharaan status quo sosial dalam pendidikan di daerah kita.

Lalu kalau kita kembali pada lembaga penyelenggara diskusi publik maka kita selalu disajikan cara-cara yang berbau politis, dimana forum dan lembaga tersebut hanya sebatas menampilkan atau dijadikan panggung untuk proses mencapai jabatan dalam pemerintah. 


Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar


Maka lihatlah hampir setiap menjelang pemilu, setiap menjelang pilkada maka barulah para politisi mengadakan berbagai sebagaimana even turnamen sepakbola dimasa lalu yang selalu ada untuk membuat konsolidasi mendukung dalam politik.

Nah, inilah pola-pola pembohongan publik dalam politik, yang tanpa disadari rakyat bahwa para agen tim sukses politisi dan politisi itu melakukan politisasi yang sungguh membodohi rakyat. Tetapi kenapa hal ini terus berulang menjadi semacam budaya dalam politik?

Karena logika berpikir sosial yang mudah dimanipulasi dengan sistem yang vulgar dominasi tampilan politik (penciteraan). Padahal semua itu adalah omong kosong dalam politik.

Kenapa demikian? Tentu saja karena permasalahan yang terjadi sebagaimana diindikasikan dengan berbagai issu yang berkait banyaknya izin tambang di Aceh yang sudah beredar dimasyarakat dan politisi parlemen sudah lama mengetahuinya tetapi mereka hanya diam. Kemudian setelah ada proses yang penting bagi mereka menghadapi momentum pemilihan barulah mereka adakan diskusi publik. Bukankah hal ini adalah pembohongan yang paling besar dalam politik ditengah masyarakat?

Silakan pikirkan dari hati kita masing-masing secara mendalam. Jika para wakil rakyat yang ingin mengatasi masalah sebenarnya mereka harus punya inisiatif mengawal normalisasi keberadaan pemerintahan ditengah masyarakat.

Begitupun pejabat kepala daerah dibutuhkan orang yang paham merespon publik, minimal dia memahami siapa mengatasi orang-orang berbicara mengkritik. Minimal dia harus tahu kenapa ada warga negara yang selalu melakukan protes kepada kepemimpinannya. 

Jangan sampai kepemimpinan tersebut dianggap seperti sifat keledai yang tidak paham bahwa dirinya sebagai pemimpin rakyat. Jangan dianggap yang berpolitik hanya atas nama partai politik atau parlemen saja. Kenapa? Jawabnya karena partai politik sebahagian besar hanya menjadi pusat administrasi politik bukan tempat warga negara berpolitik.

Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik dan Download Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar

Kalau begini terus pemeliharaan sistem politik maka dampaknya nentalitas rakyat lemah dalam politik. Akhirnya mereka dari partai politik dan wakil rakyat lebih banyak diam dengan jabatannya. Tidak ada ide dan gagasan untuk tugas dan fungsinya yang bisa membangun mentalitas rakyat dalam politik.

Karena itulah rakyat harus mewaspadai kebangkrutan politik sosial yang menyebabkan semua elemen pelayan rakyat menjadi berkuasa absolut karena wakil rakyat juga hanya bicara ketika dipaksakan atau manakala ada momentum menjelang pemilihannya.

Rakyat dalam hal ini hanya jadi objek dan bulan-bulanan para wakilnya di parlemen karena mereka mereka merasa bahwa sudah impas dengan membeli suaranya pada saat pemilu, maka mereka hanya berpikir pada rakyat hanya pada saat pemilu selanjutnya.

Pada kondisi inilah rakyat hilang kedaulatannya dan dianggap sampah oleh para politisi dan anggota parlemennya sendiri.

Salam



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil