Apakah Anda Tergolong Masyarakat Kuda Gigit Besi Atau Kuda Gigit Roti?
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar (GodFathers)
Kelompok Politik atau partai politik seharusnya menjadi kesatuan yang utuh dalam suatu perjuangan politik dalam suatu daerah atau kawasan atau negara.
Dalam kelompok politik biasanya cenderung dipersatukan dengan pemikiran yang hampir serupa, karena itu sering terjadi perpindahan orang berpolitik dari satu partai ke partai lainnya.
Selama terjadi penggabungan mereka dalam kelompok politik yang sesuai dengan pemikirannya dan mereka sanggup bertanggung jawab dalam mempengaruhi masyarakat dan tidak membawa masyarakat dalam keterpurukan maka penggabungan mereka dalam kelompok politik adalah sesuatu yang normal.
Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke 0838-1922-8233
Terutama masuk akal (logis) dalam mereka berpikir, rasional dalam mereka menyampaikan argumen politik, bisa saja merubah pemikiran masyarakat dengan banyak pemikiran politiknya, apabila terjadi stagnasi politik, misalnya disuatu daerah atau negara yang sudah berulangkali terjadi kesalahan dalam mementum politik dan memilih pemimpin yang masyarakat selalu keliru dan mengecewakan.
Itulah yang disebut perubahan sosial, atau terjadinya reformasi dalam dalam berpolitik, berpikir masyarakat, nah itu terjadi pada masyarakat yang menggunakan pikirannya dalam politik tetapi bukan tipikal masyarakat yang hanya ikut dalam kecenderungan sekedar meramaikan dengan mencari bantuan dalam kegiatan politik.
Biasanya mereka hanya bisa melihat dalam kecenderungan orang yang ramai apalagi sudah terjadi kondisi naik tumpangan truck dan mereka tidak pernah bisa berpikir dengan pemikiran politik yang benar. Pola politik tradisional seperti ini terjadi di daerah tertinggal dalam politik sangat tradisional dan dalam politik sangat kuno dimana orang berpolitik masih sekedar pamer kekuatan politik dengan mengandalkan keramaian seperti orang menonton circus.
Di daerah kita kalau bisa saja kita memisahkan dua macam orang berpikir dalam politik secara garis besar, sudah cukup baik untuk melihat tingkatan politisi berpikir.
Pertama,
Mereka yang berpikir dalam perspektif demokrasi yang kebetulan sejalan dengan konstitusi negara Indonesia saat ini, tentu pemikiran tersebut menjadi alat pemersatu pemikiran rakyat dalam politik.
Disitulah kita bisa melihat pikiran yang dipersatukan oleh kemajuan berpikir, masyarakat politik juga akan mengikuti dengan sendirinya cara berpikir dalam memperjuangkan hak-hak politiknya dan membawa serta mempengaruhi untuk membawa rakyat dalam kebebasan berpikir, menuju pembebasan masyarakat dari belenggu pemikiran yang diwarnai oleh sistem pemaksaan kehendak pemilik partai politik.
Oleh karenanya dalam struktur partai politik kita sudah bisa melihat, yang mana partai politik yang menjurus dalam sistem feodal dan bersistem demokrasi. Sebahagian masyarakat tidak memahami tentang struktur dewan pimpinan pusat dan daerah yang menunjukkan partai menjurus ke sistem demokrasi atau sebaliknya.
Masyarakat yang dipersatukan dengan kesamaan berpikir dalam demokrasi tentu akan menjauhkan pemikirannya dan menjauhkan terhadap segala hal yang mempengaruhi kemamdirian sistem demokrasi yang merupakan alat pengambil keputusan masyarakat mumpuni dalam berpikir.
Sietem demokrasi juga membutuhkan kematangan dan kedewasaan dalam politik, bukan soal pilihan yang menjadi orientasi, bisa saja dalam suatu pemilihan melahirkan mekanisme pengambilan keputusan yang tidak harus memilih. Yang penting peraturan itu adalah hasil kesepakatan bersama tidak dipakasakan.
Itulah istimewanya sistem demokrasi yang memuliakan manusia atas hak-haknya dalam bernegara. Namun demikian kita tidak menafikan banyak orang bahkan politisi tidak memahami arah demokrasi dalam politik, maka mereka menjadi perampas hak politik rakyat dengan berbagai cara termasuk dengan merampok paksa suara masyarakat.
Kedua,
Sistem Otoritarian yang memberi hak lebih kepada pemimpin bahkan diberi hak istimewa kepada pemimpin dalam pengambilan keputusan terhadap apapun bagi anggota dan bawahannya tanpa reserve.
Ini juga merupakan suatu pemikiran pkatis dalam politik yang dapat mempersatukan orang-orang dalam berpikir. Mereka cenderung memilih sistem raja dalam pengambilan keputusan rakyat.
Rakyat hanya ikut atau partisipatif dalam negara, maka di negara kita yang terbangun opini bahwa pemerintah adalah orang kaya sementara rakyat dalam kondisi miskin dan sebagai penerima bantuan.
Maka dalam sistem otoriter sebagaimana sistem dalam kerajaan negara adalah milik raja, tidak ada masyarakat yang dominan menguasai kekayaan yang dapat mengatur sebuah kerajaan yang menandingi kekuasaan raja. Rakyat dengan sendirinya akan tunduk pada pada sistem kerajaan dan keluarganya dan posisi rakyat adalah pengabdi pada sang raja.
Sistem otoritarian inilah yang membawa raja menjadi tuhan sebagaimana raja Namrud, Fir'aun dan lain-lain dimasa lalu yang kita mengetahui sejarahnya.
Nah, sebahagian besar orang atau masyarakat masih membanggakan sistem kerajaan yang merupakan sistem negara yang ketinggalan jaman (kuno) bahkan pemikir demokrasi menganggap mereka sebagai pemikir jahiliah. Karena tidak pernah menghormati kesamaan makhluk dalam lahirnya.
Ada mereka yang lahir langsung menjadi pemimpin, padahal mereka lahir sama telanjang dan tidak membawa apapun kedunia ini. Oleh karenanya dalam pemikiran demokrasi justru tidak masuk akal secara hakikatnya karena tidak menunjukkan kemampuannya dalam memimpin.
Oleh karena itu organisasi politik juga dapat dilihat, bila sistemnya menggunakan dewan Syuro, dewan pembina maka dapat dipastikan organisasi tersebut tidak akan pernah matang dan dewasa dalam berdemokrasi. Seharusnya dalam sistem demokrasi yang benar ditempatkan dewan pertimbangan lebih utama untuk menjadi penyeimbang dalam organisasi.
Kalau ditempatkan dewan penasehat biasanya tidak berfungsi dalam organisasi, bahkan lebih menunjukkan seperti organisasi sengkuni yang juga ikut menjajah oarganisasi secara langsung atau tidak langsung. Namun seperti kita saksikan kebanyakan organisasi di tanah air kita masih dalam nuansa tersebut.
Kesimpulannya terdapat dua alat pemersatu pemikiran masyarakat dalam politik rakyat, apakah anda yang berpikir dalam sistem demokrasi atau sistem otoritarian yang menyerupai sistem raja dalam masyarakat.
Mungkin untuk mengkualifikasi masyarakat dalam berpikir lebih mudah di istilahkan dengan masyarakat yang berpikir dengan cara jahiliah adalah sebagai "Kuda Gigit Besi" atau masyarakat dengan pemikiran kuno.
Kemudian masyarakat yang pikirannya dipersatukan dalam sistem demokrasi sebagai : Kuda Gigit Roti" atau masyarakat yang berpikir lebih maju dan menghormati hak orang lain dalam bernegara.
Salam

