Kenapa Terjebak Politik Praktis Buta



Oleh : godfathers

Kebiasaan dalam masyarakat kita dalam politik senantiasa berlaku pragmatis, tanpa disadari inilah salah satu sumber inspirasi yang membawa masyarakat secara rata-rata jauh dari ilmu yang sesungguhnya memberi kemudahan dalam hidupnya.

Lihatlah, fenomena dalam suatu momentum politik misalnya menghadapi pemilihan presiden, sebahagian besar masyarakat kita terpengaruh dengan logika-logika sederhana yang menjadikan uang, biaya minum dan makan, biaya berkumpul, biaya pengorganisasian, menjadi substansi politik yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Satu Box = 5 Saset, 1 Saset 2 Kali Pakai, Harga Rp. 250.000,-
Transfer 0431232969, Kirim Alamat Ke  0838-1922-8233


Karena faktor inilah, maka para preman, para begundal, para pragmatisme berperan menjadi sumber inspirasi keputusan masyarakat dalam politik, kenapa mereka yang memiliki ilmu juga terpengaruh? Tentu saja karena mereka mengikuti trend masyarakat berpikir dan mereka tidak mengambil resiko politik berhadapan dengan masalah sosial karena mereka akan rugi dalam politik personalnya untuk sekedar bisa berada dilingkaran elit kekuasaan daerah.

Lalu siapa yang berani berlawanan? Tentu saja mereka yang menyayang rakyatnya, dan mereka memilih resiko untuk tidak memilih sekedar populer dalam politik untuk membawa perubahan pada masyarakatnya. Maka sedikit orang di dunia yang berani melakukannya, dan merekalah sebenarnya disebut sebagai pemimpin rakyat walaupun sebahagian kecil masyarakat yang memahaminya sebelum sebahagian besar masyarakat merasakan dan menyadarinya.

Kurang yakin? Maka pelajarilah bagaimana masyarakat Singapore berubah oleh seorang Lee Kwan Yew.

Singapura adalah sebuah model, dan sosok seperti Lee Kuan Yew barangkali hanya tiba sekali dalam sejarah. Lahir pada 1923 dari generasi ketiga imigran Tionghoa di semenanjung Malaya, Lee menjadi perdana menteri pertama Singapura pada 1959. Ia bekerja begitu keras, dan kemakmuran Singapura hari ini boleh disebut jauh meninggalkan negara asean lainnya.

Merubah negara, merubah daerah harus dimulai dengan perubahan pemikiran sosial, terutama kesadaran dari kalangan menengah atas dalam masyarakat politiknya.

Lalu, bagaimana kita merubah keadaan, jika sikap kita sendiri berlawanan dengan ilmu dan teori politik?

Teori politik adalah bahasan dan renungan atas :

a) Tujuan dari kegiatan politik.
b) Cara- cara mencapai tujuan itu.
c) Kemungkinan - kemungkinan dan kebutuhan-kebutuhan yang ditimbulkan oleh situasi politik tertentu, dan
d) Kewajiban-kewajiban (obligations) yang diakibatkan oleh tujuan politik itu.

Jika masyarakat berlawanan dengan teori politik maka hampir tidak ada jalan menuju pada perubahan politik masyarakat karena kita dengan mudah keluar dari patron dan tujuan politik yang sesungguhnya. Karena itulah maka politik kita terjebak dalam pragmatisme buta yang justru menafikan tujuan bernegara dan tujuan politik masyarakat itu sendiri.

Sebagai contoh saya pernah mendengar langsung pidato seorang ketua partai politik tentang penentangannya terhadap teori politik yang memberi argumen dengan sebuah cerita tentang seorang profesor yang menjadi pelatih renang.

Nah,,,ketika dia sendiri diminta berenang justru ia tenggelam. Itulah cerita yang berlebihan yang berkonotasi yang mengetengahkan kepada masyarakat untuk menentang teori. Dengan kata lain tidak berbeda dengan menentang ilmu pengetahuan.

Karena dia seorang pimpinan partai pada masa itu dan berasal dari tokoh masyarakat tradisional maka pengaruh perkataannya menjadi pemikiran sosial dan kecenderungan berpikir masyarakat umum.

Kesepakatan dalam masyarakat tradisional ini akhirnya mendistorsi nilai ajaran politik dalam degradasi yang menyebabkan nilai ilmu menjadi tidak berarti dalam masyarakat berpolitik.

Akhirnya orang-orang politik mengikuti pemikiran masyarakat banyak dan menafikan ilmu politik, kemudian semua mengikuti langkah pragmatis dengan tanpa mementingkan ilmu politik dan tanpa harus belajar dan berpikir secara normatif dalam hal politik.

Salam



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil