Bagaimana Pemimpin Partai Politik Nasional Yang Benar?



Oleh : Tarmidinsyah Abubakar



Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar


Sebagaimana kita ketahui salah satu tugas dan fungsi partai politik sebagaimana diatur dalam UU partai politik adalah Melakukan Rekruitment calon pemimpin rakyat dari masyarakat itu sendiri.

Dalam melakukan fungsi politik tersebut maka pemimpin politik nasional perlu berorientasi pada standar yang benar pada muara pencapaian tujuan konstitusi negara. 

Iklan Bisnis Sun Power, Klik :
sunpowersworld.com/#/register/9b0b10.html

Keterangan Hubungi Manager Perusahaan 628970452274



Intinya membawa rakyat dalam pemenuhan syarat mereka untuk mendekatkan pada kedaulatan rakyat yang merupakan cita-cita politik rakyat dalam konsep politik demokrasi.

Lalu apa yang menjadi indikator pemantauan terhadap sumber daya masyarakat yang direkrut oleh pimpinan partai politik? 

Jawabannya adalah tidak lain selain arah dan tujuan untuk memberikan pendidikan politik kepada rakyat agar rakyat Indonesia melek politik. 

Lalu tahapan yang paling tepat adalah kemampuan pimpinan politik memilih sumber daya masyarakat dalam memahami ilmu politik demokrasi sebagaimana konstitusi negara yang demokratis.

Tentunya bukan dalam faktor lain-lain sebagaimana melihat kemampuan finansial pada sumber daya masyarakat karena sumber finansial bisa saja berasal dari uang negara yang diperoleh oleh orang politik yang memiliki jabatan yang didudukinya sementara kemampuan sumber daya politik dalam mendidik masyarakat dalam ketauladanan justru nihil.

Itulah salah satu cara masyarakat melihat prilaku pimpinan politik baik pemimpin partai politik nasional yang bisa mengukur pemimpin nasional yang bervisi dan bermisi membangun rakyat daerah.

Kalau mereka tidak mampu mengarahkan rakyat daerah dalam standar kepemimpinan nasional dalam politik maka apapun yang disampaikan adalah omong kosong (talk nonsense) pastinya mereka bukan orang yang berkemampuan dalam politik.

Lihatlah pemimpin politik nasional yang hanya melihat sumber daya masyarakat dalam perspektif finansialnya maka sama dengan mereka jauh dari sikap pemimpin nasional, lalu pemimpin politik nasional semacam ini digolongkan apa?

Mereka adalah kelompok toke atau tengkulak yang sekedar mencari laba dalam keberadaannya sebagai pemimpin partai politik nasional. Indikatornya apa?

Mereka akan mengeksploitasi semua potensi pencari uang yang termasuk artis yang dikumpulkan untuk menjadi pemain politik yang akhirnya akan membuat masyarakat melihat partai politik sebagaimana rakyat melihat artis dan pendukungnya.

Sementara pemimpin partai politik yang baik bagi pembangunan masyarakat mereka justru mendidik kader-kader politik untuk menjadi pemikir-pemikir kebangsaan dan  negarawan yang baik umtuk fondasi bangsa dan negaranya.


Yuk ikutan event Save and Win dari J Trust Bank dengan klik link di bawah ini: https://jumptogether.id/save-and-win/register?ref=AZVJ8A atau bisa juga dengan memasukkan kode referral berikut ini: AZVJ8A Dapatkan saldo tambahan dan menangkan hadiah utama jutaan rupiah!


Kalau anda tanyakan, apakah artis tidak berpotensi untuk menjadi pemimpin dan negarawan yang baik? Jawabannya adalah seharusnya partai politik membangun profesionalisme mereka menjadi artis ternama dunia yang mereka hidup dan mencari uang di dunia hiburan global yang tidak hanya dibatasi oleh daerah, bangsa dan negara.

Arahnya dalam pembangunan politik adalah membangun partai politik yang dekat dengan cita-cita rakyat maka kader politik perlu dibangun dari masyarakat yang berkonsentrasi dalam politik tidak dilihat dari popularitas mereka dibidang lain sebagaimana artis, pelawak dan lainnya dari dunia hiburan.

Saya ingin masyarakat bisa melihat bagaimana statement seorang istri kepala daerah yang secara jujur mengatakan bahwa "saya baru belajar berorganisasi dalam kepemimpinan suaminya yang kepala daerah dan sekaligus artis.

Terlalu besar resiko yang diambil oleh bangsa ini untuk mempertaruhkan kepala daerah kepada popularitas yang bukan tempatnya. Kalau tingkat kepala daerah masih dalam eksperimen maka bayangkanlah bagaimana pemimpin partai politik nasional mempertaruhkan  rakyat daerah dengan ketertinggalannya.

Karena itulah maka masyarakat daerah akan terus menjadi pemuja pemimpin karena mereka mendapatkan pemimpin daerah sebagaimana rakyat melihat artis yang indah dan sempurna dimatanya tanpa menaruh beban masa depan hidup rakyat dipundaknya.

Bagaimana seharusnya pemimpin daerah bagi rakyat? Pemimpin adalah mereka yang diajak berpikir bersama membuat perencanaan bersama rakyat yang tidak memisahkan dirinya dengan rakyat, menjalankan pembangunan secara bersama-sama dengan rakyat, merasakan penderitaan rakyat dan ketika rakyat memperoleh kesejahteraan mereka bergembira, sementara ketika masyarakat tidak memiliki pendapatan mereka terbebani.

Karena itulah berpolitik dan bernegara diarahkan pada tujuan bernegara sebenar-benarnya bukan pada tujuan yang lain misalnya beragama dan berbudaya dan lain-lain yang sedikit saja bergeser orientasinya maka terdegradasilah tujuan berbangsa dan bernegara, misalnya terjerumus dalam konsep beragama dimana kesejahteraan hidup di akhirat atau setelah warga negara melewati kematian.

Bukankah hal ini menjadi sesuatu lelucon abadi yang sangat konyol dalam bernegara? 

Kalau begini cara berpikir warga negara maka wajar sebuah daerah akan terus mengalami ketertinggalan sepanjang sejarah negara, sementara mereka mendapat fasilitas dan uang dari negara dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tidak mengalami kesulitan sebagaimana rakyat biasa mengalami kesulitan hidup.

Darimana mereka bebas hidup dari status sosial yang tinggi maka kebijakan daerah memberi fasilitas kepada mereka tapi sayangnya mereka hidup dan menggunakan fasilitas untuk bisa berpolitik justru mendirikan partai politik dan berpolitik yang bertentangan dengan misi rakyat bernegara dalam mencapai kedaulatan politik rakyat.

Kalau tujuan politik yang tidak terorientasi pada tujuan bernegara maka politik yang dilalui adalah politik salah kaprah bisa saja bergeser dalam tujuan agama yakni ideologi partai politik justru berorientasi pada pendirian negara Islam yang jauh dari tujuan politik keberagaman dan konstitusi negara dan bangsa Indonesia.

Selama ini yang terlihat justru aneh dan indikatornya bahwa semua yang menjadi pemimpin daerah tidak pernah mengarahkan daerah berjalan pada rel tujuan bernegara sehingga rakyat bernegara kabur dalam melihat tujuannya dalam mencapai cita-citanya.

Masyarakat tidak pernah terarah dalam bernegara dan tidak mau tahu dengan hak-hak politiknya, semua yang mereka miliki dalam bernegara terabaikan begitu saja, karena arogansi pemimpin daerah dan orang-orang disekelilingnya yang berpikir dan terjebak dalam batasan kekuasaan bukan bekerja dalam kedewasaan berbangsa dan bernegara.

Sebenarnya kalau pemimpin tipikal pemimpin rakyat maka mereka akan mengarahkan bernegara sebagaimana sebuah program lima tahunan. 

Dapat saja dimulai dari titik Nol ketitik Seratus,  setiap tahun rakyat memulai dan mengakhiri dengan nilai Dua Puluh dalam pencapaian pembangunannya.

Namun yang kita pantau hal itu nihil rakyat tidak paham apa yang sedang dikerjakan oleh pemerintahannya. 

Itulah sebabnya kenapa partisipasi dalam pembangunan sangat utama dalam pembangunan negara dengan sistem politik demokrasi seperti saat ini.

Nah, kembali kepada fungsi partai politik yang sesungguhnya maka pemimpin partai politik harus mampu mengoptimalkan sumber daya politik secara tepat dengan merekrut orang-orang yang bisa dan mampu mengarahkan rakyat dalam pembangunannya.

Pemimpin politik yang bisa masuk dan memahami kehidupan rakyat dan menempatkan orang-orang yang benar dalam pembangunan adalah yang paling pantas didukung untuk membangun rakyat daerah.

Sebaliknya mareka pemimpin politik yang sekedar mengekploitasi rakyat dengan kekuatan pada uang rakyat sungguh merupakan pecundang yang tidak pantas di dukung oleh rakyat.

Hal ini merupakan suatu kunci dalam pembangunan rakyat daerah agar cerdas dalam memandang seorang pemimpin partai politik nasional dan calon pemimpin nasional yang harus didukung.

Pemimpin dapat dilihat dari cara mereka memutuskan perencanaan politik yang mementingkan kebangsaan daripada sekedar pemenangan partai politiknya. 

Kalau mereka yang mengekploitasi rakyat maka mereka pasti dapat dilihat secara nyata bahwa mereka hanya menggunakan sistem politik pasar yang mengutamakan suara rakyat dengan cara apapun. Tanpa mau mempelajari sumber masalah rakyat yang menyebabkan hidup rakyat melarat.

Semoga masih ada pemimpin politik yang bisa melihat masalah rakyatnya dan mereka bukan sebatas mengambil manfaat dari rakyat dengan sebatas potensi uang mereka.

Salam






Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil